www.crepesnco.com10 Pahlawan Nasional Wanita Indonesia yang Tak Boleh Dilupakan. Saat ini banyak anak muda di Indonesia yang hanya mengetahui bahwa R.A Kartini dan Cut Nyak Dien adalah pahlawan nasional perempuan Indonesia. Namun nyatanya masih banyak pejuang wanita Indonesia yang dengan berani memperjuangkan negara Indonesia dari penjajahan Belanda, seperti Maria Varanda Malamis di Sulawesi Utara dan Marsha di Maluku, Christina Tiahahu atau Laksamana Aceh Malahidi.

Untuk mengingatkan mereka akan pengabdian dan pengorbanan mereka dalam memperjuangkan negara Indonesia di bawah kekuasaan penjajahan Belanda.

Berikut 10 pahlawan nasional wanita di Indonesia :

1. R.A Kartini

Raden Adjeng Kartini (lahir 21 April 1879 di Yepara, Hindia Belanda – meninggal 17 September 1904 di Lembang, Hindia Belanda, pada umur 25 tahun), atau lebih tepatnya Raden Ayu Kartini adalah orang Jawa dan Indonesia. pahlawan nasional. Kartini adalah pelopor kebangkitan perempuan adat.

Raden Adjeng Kartini berasal dari Priyai atau kelas aristokrat di Jawa. Ia adalah putri Gubernur Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Cartini diangkat sebagai Bupati Jepara segera setelah kelahirannya. Katini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah, dan Kyai Haji Madirono adalah guru agama Jepara Telukawur. Dari sudut pandang ayahnya, garis keturunan Katini dapat ditelusuri kembali ke Harman Kubwana VI. Silsilah Bupati Sosroningrat bahkan bisa ditelusuri kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Sejak Pangeran Danjilin menjadi Bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosniningrad telah menduduki banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Baca Juga: TRIKORA; Isi, Latar Belakang, Sejarah Awal hingga Akhir

Ayah Kartini awalnya adalah wedana dari Mayon. Undang-undang kolonial saat itu mewajibkan bupati memiliki gelar bangsawan. Karena Tuan Ngasirah bukan seorang bangsawan, ayahnya menikah bersama Raden Adjeng Woerjan, keturunan langsung Raja Madura. Setelah menikah, ayah Kartini diangkat menjadi Bupati Jepara menggantikan posisi R.A. Wu Eryang (R.A.A.) Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak kelima dari 11 saudara kandung dan tiri. Di antara semua saudara kandung, Cartini adalah putri tertuanya. Kakeknya ialah Pangeran Ario Tjondronegoro 5 diangkat menjadi bupati pada usia 25 tahun, dan dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan Barat kepada anak-anaknya pada pertengahan abad ke-19. Kakak Kartini Sosro kartono merupakan seorang ahli bahasa. Kartini tidak diizinkan mengikuti ELS (European LaGare School) sampai berumur 12 tahun. Di sini, Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, dia harus tinggal di rumah karena dia mungkin terisolasi dari dunia.

Sejak Kartini bisa berbahasa Belanda, dia mulai belajar sendiri di rumah dan menulis surat kepada seorang teman koresponden di Belanda. Rosa Abendanon adalah salah satunya, dan dia sangat mendukungnya. Dalam buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini sangat tertarik dengan kemajuan pemikiran perempuan Eropa. Ia sangat ingin memajukan perempuan adat karena menurutnya status sosial perempuan adat lebih rendah.

2. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung pada 4 Desember 1884, dan meninggal di Cineam, Tasikmalaya pada 11 September 1947 pada usia 62 tahun. Pada tahun 1966, dibilang banyak orang sebagai pahlawan nasional untuk pemerintah Indonesia.

Dewi Sartika lahir di keluarga Sunda ternama di Cicalengka pada tanggal 4 Desember 1884, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas. Sebagai seorang anak, ia selalu bekerja sebagai guru dengan teman-temannya setelah sekolah. Setelah ayahnya meninggal, dia tinggal bersama pamannya. Meskipun sebelumnya dia telah menerima pengetahuan tentang budaya Barat, pamannya tetap menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sun lainnya. Pada tahun 1899, ia pindah ke Bandung.

Pada 16 Januari 1904, ia mendirikan sekolah bernama Sekolah Istri di Pandopo, Kabupaten Bandung. Sekolah itu lalu dipindahkan ke Jalan Ciguriang dan telah berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. di tahun 1912, terdapat sembilan sekolah yang berada di Provinsi Jawa Barat, yang lalu berkembang menjadi suatu sekolah untuk setiap kota dan daerah di tahun 1920. Pada bulan September tahun 1929, sekolah tersebut telah berganti nama ialah Sekolah Raden Dewi.

Selama Perang Kemerdekaan, dia meninggal di Cinemam pada 11 September 1947.

3. Fatmawati

Fatmawati lahir tanggal 5 Februari tahun 1923 di Bangluo & meninggal diKuala Lumpur, Malaysia pada 14 Mei 1980 di usia 57 tahun merupakan istri Presiden Indonesia yang pertama Soekarno. Dari 1945 hingga 1967, fatmawati menjadi sosok ibu negara Indonesia dan istri ketiga Soekarno, presiden pertama Indonesia. Ia juga dikenal atas jasa menjahit lambang Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih dimana juga dikibarkan pada saat upacara Proklamasi dalam Kemerdekaan Indonesia yang diadakan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Fatmawati lahir di Hasan Din dan Siti Chadijah. Orang tuanya adalah keturunan Putri Indrapura, salah satu keluarga kerajaan Kesultanan Indrapura di Pesisir Selatan, provinsi Sumatera di bagian barat India. Ayahnya adalah seorang pengusaha dari Bengkulu dan seorang tokoh dari Muhammadiyah.

Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno dan Soekarno akan menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahannya, ia mendapat restu lima putra putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarno putri, Rahmawati Soekarno putri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Makam Fatmawati di TPU Karet Bivak, Jakarta
Pada 14 Mei 1980, dia meninggal dunia karena serangan jantung dalam perjalanan pulang dari Mekah dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

4. Nyi Ageng Serang

nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752-Yogyakarta, 1828) adalah pahlawan nasional Indonesia. Ia adalah putra Pangeran Natapura, dan ia menguasai daerah terpencil Kerajaan Mataram, yang kebetulan berada di Serang, yang kini menjadi wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya meninggal, Nyi Ageng Serang menggantikan ayahnya.Nyi Ageng Serang adalah keturunan dari Sunan Kalijaga dan merupakan keturunan dari pahlawan nasional Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Karibawang, Coulong Progo. Ia merupakan pahlawan nasional yang hampir dilupakan orang, mungkin karena namanya tidak sepopuler R.A .. Kartini atau Cut Nyak Dhien, namun perannya sangat penting di negeri ini. Masyarakat Kulon Progo menjadikan monumennya abadi di tengah kota Wates berupa patung kuda yang dengan berani menunggangi tombak di patungnya. .

5. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien (ejaan kuno: Tjoet Nja’Dhien dari Lampardang, Kerajaan Aceh, 1848-Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908; dimakamkan di Gunung Puyuh di Sumedang) adalah suku bangsa Indonesia di Aceh Pahlawan, ia melawan Belanda di Aceh dalam Perang Aceh. Setelah diserang di daerah VI Mukim, dia melarikan diri, sedangkan suaminya Ibrahim Lamnga melawan Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1878, Ibrahim Lamnga meninggal di Gle Tarum, yang membuat Cut Nyak Dhien semakin melawan Belanda.

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, sebelumnya ia diizinkan turun medan perang jika menerima lamaran tersebut. Dari pernikahan tersebut, Cut Nyak Dhien memiliki seorang anak bernama Cut Gambang. Setelah menikahi Teuku Umar, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar bersama-sama melawan Belanda. Namun Teuku Umar meninggal pada tanggal 11 Februari 1899. Ini memungkinkan Cut Nyak Dhien bertarung sendirian dengan unit kecilnya di dalam Meulaboh. Cut Nyak Dien (Cut Nyak Dien) relatif lebih tua saat itu. Tubuhnya diserang berbagai penyakit seperti encok dan miopia. Salah satu pasukannya bernama Pang Laot. Bersimpati dan mengabarkan keberadaannya.

Dia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana dia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Keberadaan Cut Nyak Dhien diyakini masih memberikan pengaruh yang besar terhadap perlawanan masyarakat Aceh, dan hubungannya dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap juga membawanya ke pengasingan ke Sumedang.

Baca Juga: 11 Makanan Asal Perancis Paling Rekomended Terlezat

6. Maria Walanda Maramis

Maria Josephine Catherine Maramis (lahir 1 Desember 1872 di Kiama, Mina Kazak Utara, Sulawesi Utara) -22, 24 April di Sula Maumbi Utara, Negara Bagian Kazakh, Mina Utara, Pulau Barat, meninggal pada usia 51 tahun), atau lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis (Maria Walanda Maramis), adalah pahlawan nasional Indonesia karena ia berkomitmen pada perbaikan di awal abad 20 Situasi perempuan Indonesia.

Setiap tahun pada tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Varanda Malamas yang dianggap sebagai penyabot adat dan pejuang untuk kemajuan dan pembebasan perempuan dalam politik dan pendidikan. Menurut Nicholas Graafland, Maria diangkat sebagai salah satu panutan Minahasa dalam buku “Nederlandsche Zendeling Genootschap” pada tahun 1981. Ia memiliki “kemampuan khusus untuk menguasai segalanya dan mengembangkan pikirannya.” Bakat, mudah beradaptasi dengan ilmu, lebih banyak lagi lebih maju dari laki-laki. ”

Untuk mengenang pengabdiannya, telah dibangun patung Varanda Malamis di Kelurahan Komo Luar Kota Vanan, sekitar 15 menit dari pusat kota Manado dan dapat ditempuh dengan transportasi darat. Di sini pengunjung bisa mempelajari sejarah perjuangan perempuan Nyiur Melambai di muka bumi. Fasilitas yang ada adalah tempat parkir dan pusat perbelanjaan.

7. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu (lahir 4 Januari 1800 di Nusa Laut, Maluku-meninggal di Bandahai, Maluku pada tanggal 2 Januari 1818, umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusa Lot. Lahir sekitar tahun 1800, ia bersenjatakan senjata melawan penjajah Belanda saat itu, usianya baru 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu (Kapitan Paulus Tiahahu), dia adalah kapten Abubu (Abubu), dia Thomas Matulessy (Thomas Matulessy) ke Belanda pada tahun 1817 Asisten dalam perang di Desa Patty.

Martha Christina Tiahahu (Martha Christina Tiahahu) adalah seorang pejuang kemerdekaan yang unik, dia adalah seorang putri remaja, dia langsung memasuki medan perang di Perang Desa Patti 1817 untuk melawan tentara kolonial Belanda. Dalam komunitas pejuang dan musuh, dia dipuji sebagai gadis pemberani, konsisten dengan mimpinya.

Sejak awal perjuangan, dia selalu terlibat dan tidak pernah mundur. Rambutnya yang panjang tergerai ke belakang dan diikat dengan kepala kain berang-berang (merah), tetap menemani ayahnya dalam setiap pertempuran di Nusalot dan Saparua. Saat siang dan malam, dia selalu hadir dan berpartisipasi dalam fortifikasi. Ia tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mendorong perempuan dari berbagai negara untuk membantu laki-laki di setiap medan pertempuran, sehingga Belanda kewalahan oleh perempuan yang sedang bertempur.

Dalam pertempuran sengit di Desa Ouw-Desa Ullath Jasirah di sebelah tenggara Pulau Saparua, kita melihat kemampuan sang srikandi untuk melawan musuh bersama para pejuang rakyat. Tetapi pada akhirnya, karena ketidakseimbangan senjata, tipu daya dan pengkhianatan yang tidak seimbang, karakter pejuang dapat ditangkap dan dihukum. Ada yang harus digantung dan mati, ada yang dibuang ke Jawa. Kapitan Paulus Tiahahu ditembak dan dijatuhi hukuman mati. Martha Christina Tiahahu mencoba menyelamatkan ayahnya dari hukuman mati, tetapi dia tidak berdaya dan terus bekerja di hutan, tetapi akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Jawa.

Di atas kapal perang Eversten, Martha Christina Tiahahu (Martha Christina Tiahahu) tewas terbunuh, Tubuhnya diluncurkan di Laut Banda pada tanggal 2 Januari 1818. Untuk berterima kasih atas layanan dan pengorbanannya, Martha Christina Tihahu diakui oleh pemerintah Israel sebagai pahlawan nasional. Republik Indonesia.

8. Cut Nyak Meutia

Tjoet Nyak Meutia (lahir 15 Februari 1870, Keureutoe dari Pirak Timur, Utara, Aceh, meninggal di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910, pada umur 40 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng di Aceh. Menurut Keppres No. 107/1964 tahun 1964, ia menjadi pahlawan nasional Indonesia.

Orang tua Tjoet Nyak Meutia adalah keturunan Minangkabau dari Sijunjung, Sumatera Barat. Awalnya, Tjoet Meutia menghadapi Belanda dengan suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada Maret 1905, Tikk Tunong ditangkap oleh Belanda dan dijatuhi hukuman mati di pantai Lhokseumawe. Sebelum Teuku Tjik Tunong wafat, ia menasehati temannya Pang Nanggroe untuk menikahi istrinya dan merawat putranya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Nyak Meutia (lahir 15 Februari 1870, Keureutoe dari Pirak Timur, Utara, Aceh, meninggal di Alue Kurieng, Aceh pada tanggal 24 Oktober 1910, pada umur 40 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng di Aceh. Menurut Keppres 107/1964, ia menjadi pahlawan nasional Indonesia.

Orang tua Tjoet Nyak Meutia berasal dari keturunan Minangkabau di Sijunjung, Sumatera Barat. Awalnya, Tjoet Meutia menghadapi Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada Maret 1905, Tikk Tunong ditangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati di Pantai Lhokseumawe. Sebelum Teuku Tjik Tunong wafat, ia menyarankan agar temannya Pang Nanggroe menikahi istrinya dan merawat putranya Teuku Raja Sabi.

9. Hj. R. Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said (lahir 14 September 1910 di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, meninggal di Jakarta pada tanggal 2 November 1965 pada umur 55) adalah pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional Indonesia. Seperti Katini, dia juga memperjuangkan persamaan hak antara pria dan wanita. Ia dimakamkan di TMP Kalibata di Jakarta.

Sumber Daya Manusia Rasuna Said (Rasuna Said) lahir pada tanggal 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Manincho, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia adalah keturunan bangsawan Minan. Ayahnya bernama Muhamad Said (Muhamad Said), dia adalah seorang pengusaha Minangkabau dan mantan aktivis G-30-S.

Setelah tamat Sekolah Dasar (SD), remaja Rasuna Said diutus oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, dia satu-satunya murid perempuan. Ia disebut sebagai sosok yang cerdas, pandai dan pemberani. Rasuna Said kemudian melanjutkan studinya di Diniyah Putri Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh gerakan Thawalib. Gerakan Thawalib merupakan gerakan yang didirikan oleh para reformis Islam di Sumatera Barat. Banyak pemimpin gerakan dipengaruhi oleh nasionalisme Islam Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

Rasuna Said sangat peduli dengan kemajuan dan pendidikan perempuan, ia pernah mengajar di Diniyah Putri. Namun, pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena menurutnya kemajuan perempuan tidak hanya bisa dicapai dengan mendirikan sekolah, tetapi juga harus dibarengi dengan perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukkan pendidikan politik ke dalam kurikulum Sekolah Diniyah Putri, namun ditolak. Rasuna Said kemudian belajar agama di Haji Rasul atau Dr. H Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir yang akan sangat mempengaruhi pandangan Rasuna Said.

Kontroversi poligami dulunya sangat ramai dan menjadi kontroversi di lapangan Minang pada tahun 1930-an. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah pasangan menikah. Rasuna Said meyakini bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari pelecehan terhadap perempuan.

10. Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju adalah petarung wanita asal Sulawesi Selatan yang telah menjadi pahlawan nasional di Indonesia. Nama Opu Daeng Risadju adalah Famajjah. Opu Daeng Risaju sendiri merupakan seorang gelar bangsawan di kerajaan Luwu, tetap pada Famajjah, dan memang salah anggota keluarga kerajaan Luwu. Opu Daeng Risaju, anak dari Opu Daeng Mawellu dan Muhammad Abdullah, lahir di Barengseng, Palopo pada tahun 1880.

Famaji lahir di kota ini pada tahun 1880, putra dari Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Keluarga ini dianggap keluarga bangsawan. Seperti kebanyakan umat Islam saat itu, Famaj hanya belajar Alquran tanpa sekolah formal. Dia kemudian menikah dengan Haji Muhammad Daud dan dipanggil Opu Daeng Risadju. Keluarga itu dulu tinggal di Parepare, kota pelabuhan lain yang menghadap ke Selat Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan.

Sejak bertemu dengan H. Muhammad Yahya, Opu Daeng Risadju aktif di Partai Syarikat Islam (PSII) Indonesia. Yahya, seorang pengusaha dari Provinsi Sulawesi Selatan, sudah lama tinggal di Jawa dan mendirikan PSII di Pare-Pare. Setelah bergabung, Opu Daeng Risadju dan suaminya membuka PSII di Palopo pada 14 Januari 1930.

Peresmian Palopo PSII menggelar pertemuan besar-besaran di Pasar Lama Palopo (sekarang Jalan Landau). Pertemuan tersebut dihadiri oleh pemerintah Kerajaan Lu Wu, otoritas manajemen pusat PSII, tokoh masyarakat dan publik. Hasil pertemuan dibuka oleh Opu Daeng Risadju. Pada saat yang sama, saudaranya Mudehang menjabat sebagai sekretaris. Mudehang dipilih karena dia tamat SD selama lima tahun dan bisa baca tulis.

Namun pada masa pendudukan Jepang, Opu Daeng Risaju tidak banyak melakukan aktivitas di PSII. Pasalnya, pemerintah Jepang melarang kegiatan politik yang diselenggarakan oleh gerakan nasional termasuk PSII. Selama Revolusi Luwu, Opu Daeng Risaju (Opu Daeng Risaju) menjadi aktif kembali.

Karena dukungan yang kuat dari rakyat, Belanda mulai menahan Opp dan berhenti berperang di PSII. Belanda bekerja sama dengan pengawas afs Mas Masamba, percaya bahwa Opp menghasut rakyat dan mengambil tindakan positif sehingga rakyat tidak lagi mempercayai pemerintah. Pada akhirnya, Op diadili dan diberi gelar kebangsawanan. Tidak hanya itu, ia juga menekan suami dan keluarga Opp untuk menghentikan aktivitasnya di PSII.

By admin