www.crepesnco.com8 Penyanyi Indie yang Tak Kalah Cantik dari Raisa. Musisi yang menyebut dirinya “Indie” kini digandrungi oleh banyak generasi milenial. Banyak orang yang salah mengartikan musik indie sebagai genre musik, dan arti sebenarnya adalah singkatan dari independent berati bebas, jadi musisi independent adalah mereka yang tidak berafiliasi dengan perusahaan rekaman musik, yang mungkin ada kaitannya dengan itu. Saat ini, banyak generasi millennial menyebut diri mereka “anak-anak Indie” hanya karena mereka sering menonton konser para musisi ini dan mengenakan pakaian seperti mereka.

Tahukah Anda, selain musiknya yang benar-benar nikmat, para musisi independen ini juga memiliki penampilan yang luar biasa. Tak kurang dari Via Vallen atau Raisa. Tentunya kalian semua penasaran ya, siapakah musisi independen yang berpenampilan baik?

Berikut 8 musisi independen ini!

1. Danilla Riyadi

Danilla lahir 13 Februari tahun 1990, Jakarta adalah seorang penyanyi, penulis lagu dan aktor Indonesia, dikenal secara luas sebagai Danilla.

Danilla adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ia berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan dunia musik. Ibunya Ika Ratih Poespa adalah seorang penyanyi jazz, dan pamannya adalah musisi terkenal Dian Pramana Poetra. Di rumah, musik klasik, keroncong, lagu bossa nova João Gilberto, dan musisi jazz seperti Billie Holiday, Diana Krall dan Fourplay sering dimainkan.

Meski diliputi musik sejak kecil, Danilla tidak merasa memiliki suara penyanyi yang pantas. Saat remaja, Danilla lebih tertarik pada video game daripada musik, padahal ibu dan pamannya sudah menyanyikan beberapa lagu populer untuknya. Hobi permainan Danilla, terutama film horor “Resident Evil” & “Silent Hills”, membuat dirinya sering absen sekolah, sehingga dia tak naik masuk kelas. Danilla pun mengaku lebih memilih bermain game di rumah daripada bersekolah karena merasa tidak punya teman. Karena tubuhnya yang besar, ia sering diejek oleh anak-anak di sekolah.

Saat Danilla berusia 17 tahun, dia mendapat kesempatan untuk membuat album solo. Kutipan tersebut berasal dari sutradara terkenal Richard Buntario, yang juga merupakan kenalan pamannya Danilla. Rencana Danilla adalah merekam album musik populer untuk membawa kembali lagu-lagu yang sudah populer, seperti lagu-lagu penyanyi Filipina Sabrina. Namun, rencana itu tidak terlaksana karena Danilla menilai hal itu tidak sesuai dengan keinginannya.

Baca Juga: Biografi Five Minutes Dan Jalan Karir Personil

Danilla memulai karirnya sebagai musisi pada tahun 2010 dengan mendirikan Orca, sebuah band yang sering dinyanyikan oleh band-band Inggris seperti Keane dan Radiohead. Kesibukannya di band membuat perkuliahannya di spesialisasi penyiaran, sedangkan YAI dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Persada di Indonesia diabaikan. Bahkan untuk bisa menjalankan kegiatan musik, Daniela bahkan mengambil cuti dua tahun dari perguruan tinggi, sehingga ia harus bekerja di beberapa tempat untuk membiayai studinya karena ayahnya menolak untuk telat lulus.

Pada 2012, Danilla mendapat undangan dari Richard Buntario untuk membuat album solo, mendirikan perusahaan rekaman Orion Records dua tahun lalu. Richard memperkenalkan Danilla dan dua calon produser album tersebut, yaitu Aldi Nada Permana dan Lafa Pratomo. Keduanya adalah anggota dari band jazz Suave, dan mereka juga artis di bawah Orion Records. Danilla mendapatkan sebuah lagu yang diciptakan oleh mereka masing-masing, dan akhirnya memilih lagu Lafa karena menurutnya lagu tersebut lebih cocok. Ngomong-ngomong, Danilla juga mencari musisi yang bisa bernyanyi bersamanya, sedangkan Lafa mencari penyanyi untuk membawakan data lagunya “Terpaut of Time”. Mereka pun memutuskan untuk bekerja sama.

Pada 2019, Danilla mulai merambah dunia pertunjukan dengan membintangi dua film layar lebar. Yang pertama adalah Koboy Kampus, sebuah film yang terinspirasi dari masa ketika sutradara dan penulis skenario Pidi Baiq masih kuliah. Lamaran Danilla untuk membintangi sebuah film datang langsung dari Pedy sendiri, dan Daniela mengiyakan, karena dunia perfilman masih dalam bidang seni seperti musik, jadi tidak ada salahnya mencoba melakukannya. Daniela diminta memerankan Nova, salah satu teman sekelas Pidi. Ia mengaku malu karena baru pertama kali tampil di sebuah film dan diajak langsung oleh Pidi, namun Danilla merasa lebih tenang karena pemeran utama di film tersebut. Film ini seorang musisi, Anda bisa mengajaknya bertukar pikiran, yaitu Jason Ranti.

2. Kallula

Kallula (lahir 26 Maret 1989 di Jakarta umur 31) adalah seorang penyanyi, penulis lagu dan influencer Indonesia. Ia dikenal sebagai penyanyi utama dari duo musik elektronik Kimokal.

Kallula adalah penyanyi utama dari band rock lain LCDTrip. Setelah itu, ia bertemu dengan Rizky “Kimo” Ramadan dan membentuk duo musik elektronik Kimokal pada tahun 2014, sementara LCDTrip berlatih di Double Deer Records Studio.

Pada 2016, disjoki Dipha Barus mengundangnya untuk ikut memproduksi lagu hit “Noone Can Stop Us”. Pada tahun 2019, Kallula merilis lagu solo pertamanya “This Love”.

3. Vira Talisa

Vira Talisa (lahir 9 Agustus 1993 di DKI Jakarta, Jakarta, 27 tahun) adalah penyanyi Indonesia yang menekuni jalur musik independen.

Vira lulus dari pendidikan seni visual dari Universitas Rennes di Prancis.

Pilihan musik retro Vira dipengaruhi oleh kecintaannya pada lagu-lagu retro dan nuansa Broadway, soundtrack asli film animasi Disney.

Awalnya, Vira sering mengunggah rekaman amatirnya ke Soundcloud. Pada tahun 2016, tepatnya dari bulan April hingga Agustus setelah lulus kuliah, Vira mulai merekam karya selama magang. Akhirnya pada Desember 2016, ia sukses memproduksi mini album bertajuk Vira Talisa.

Album lengkap pertamanya bertajuk Primavera dirilis pada 1 Maret 2019. Masih mengandalkan nuansa lagu dan cover album, album ini dirilis dalam bentuk digital melalui berbagai layanan musik streaming.

4. Rara Sekar

Rara Sekar (lahir 7 Juni 1990 di Bandung, umur 30) adalah seorang musisi dan aktivis Indonesia. Bersama Ananda Badudu, ia tergabung dalam Grup Musik Banda Neira (hingga 2016) dan telah menghasilkan dua album dan dua mini album. Rara lulus dengan gelar di bidang Antropologi Budaya dari Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Rara Sekar adalah anak dari Luana Marpanda (guru musik) dan Sapta Dwikardana (dosen, terapis atau grafolog) dari latar belakang musik dan akademis. Hal ini membuat Isyana dan Rara memiliki bakat musik dan tradisi intelektual yang kuat.Rara Sekar juga saudara kandung Isyana Sarasvati, dan ia juga berkarir di industri musik Indonesia.

Pada tahun 2015, Rara Sekar menikah dengan Ben Laksana dan Laksana sekarang tinggal bersama suaminya di Wellington, Suaminya adalah Ben Laksana, asisten dosen dan peneliti di School of Education, Victoria University, Wellington, New Zealand.

Saat kecil, Rara sudah terbiasa mengikuti lomba debat bahasa Inggris. Karena kemampuannya tersebut, Rara mendapat beasiswa dari berbagai negara. Selain belajar di Amerika Serikat, Rara juga pernah mendapatkan beasiswa di Spanyol dan Turki dengan fasih berbahasa Belanda, Perancis, Spanyol, Inggris dan Indonesia.

Rara Sekar merupakan alumnus Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan. Dengan bakat dan semangatnya di bidang ilmu, ia berhasil mengantarkan Rara memperoleh gelar master di bidang antropologi budaya dari Victoria University of Wellington di Selandia Baru.

Awalnya, Rara Sekar magang di KontraS, sebuah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang HAM.

Rara juga salah satu pendiri dan pencipta kursus Sekolah Kita Rumpin di Kampung Cibitung, Bogor, Jawa Barat. Sekolah Kita Rumpin merupakan sekolah informal alternatif yang didirikan untuk meningkatkan kapasitas korban sengketa tanah di daerah tersebut. Meski Rara saat ini berada di luar negeri, Rara tetap menjadi direktur pengembangan dan penelitian kurikulum sekolah. Saat ini Rara sibuk sebagai aktivis pendidikan dan pengajar di Army Project, sebuah organisasi sosial yang fokus pada pembelajaran kritis. Pendidikan fotografi dan narasi visual reflektif, kegiatan yang diadakan meliputi workshop, workshop fotografi dan bentuk lainnya

Rara Sekar dan Ananda Badudu membentuk band bersama yang diberi nama Banda Neira pada Februari 2012. Menariknya, ada total empat buah musik, “Di Atas Perahu Kertas”, “Kean Bellanta”, “K Keluhan” dan “Lin Du” (puisi musikal Subagio Sastrowardoyo) mendapat banyak tanggapan positif.

Namun, setelah empat tahun bekerja keras, pada 23 Desember 2016, Banda Neira (Banda Neira) resmi dibubarkan.Hal ini dilakukan oleh dua personel, Rara Sekar dan Ananda Badudu, melalui Instagram resmi Banda Neira (Banda Neira). Neira) Akun. Menurut mereka, pembubaran Banda Neira sudah melalui pemikiran hampir setahun.

Baca Juga: 7 Konser Online Termeriah Selama Masa Pandemi

Rara Sekar, Danilla Riyadi dan Sandrayati Fay yang bekerja sama dalam proyek Daramuda. Proyek Daramuda memulai ceritanya pada Maret 2017. Mereka berada di sisi yang santai sebagai musisi. Artinya, Daramuda tidak membicarakan berapa banyak album yang terjual atau bagaimana tanggapan penonton.

Di tahun 2019 ini mereka merilis album yang berjudul Salam Kenal yang berisi 7 buah lagu.Rinciannya adalah menyanyikan satu lagu bersama-sama, kemudian menyanyikan dua lagu lainnya secara terpisah. Kemudian pada 2 April 2020, mereka merilis EP berjudul Pertigaan. Berisi tiga lagu, mereka dan tiga lagu yang dinyanyikan “Sejauh Mata Memandang”.

Rara dan Ben, yang sama-sama suka mendaki gunung dan menjelajahi alam, sangat peduli terhadap lingkungan. Di rumah, mereka menanam kebun sayur bernama #rarabenhomegarden. Rara sering melakukan kampanye agar kita bisa menciptakan budaya pemanfaatan ruang di sekitar tempat tinggal kita untuk bercocok tanam dan menumbuhkan hidup sehat dengan makan sayur di kebun kita.

Selain berkebun, Lala dan Ben juga mendirikan proyek fotografi.Kedua pasangan ini bertemu melalui hobi fotografi. Proyek fotografi mereka disebut nuansanuans, yaitu fotografi konsep pernikahan yang absurd, selain itu Lala dan Ben juga aktif mengikuti kegiatan fotografi. bengkel di Bandung, ia mendirikan perusahaan bernama 9 am Photography

5. Monita Tahalea

Monita Angelica Maharani Tahalea, dikenal sebagai Monita Tahalea lahir di Manado, 21 Juli 1987 umur 33, adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu Indonesia.

Peringkat keempat dalam aktivitas idola Indonesia adalah gaya jazz vokal unik Monita, yang menarik perhatian Indra Lesmana dan menghasilkan album jazz pertamanya “Dream, Hope & Faith” pada tahun 2010. Di tahun 2007, Monita juga memberikan kontribusinya sendiri di album tersebut. Hati milik Yovie Widianto dan memiliki single Selingkuh dan Kekasih Sejati dan album Kembali Satu.

Di penghujung tahun 2011, Monita memperoleh gelar Sarjana (S1) Desain Komunikasi Visual (DKV) dari Universitas Trisakti. Dalam perjalanan bermusiknya, bersama Endah N Rhesa, RAN dan beberapa lainnya, ia menyuarakan suaranya dengan single Indonesia Pusaka di album “100% Cinta Indonesia”. Monita Tahalea merilis lagu berjudul “Remember My Sweet Moments”, yang menjadi soundtrack iklan Tropicana Slim.

6. Cabrini Asteriska

Cabrini Asteriska Widiantini lahir 6 Maret 1988, umur 32 adalah seorang penyanyi Indonesia.

Terinspirasi oleh musisi jazz dan folk legendaris, Astiska memulai karir menyanyinya pada usia 15 tahun. Dia menyadari bahwa suatu hari dia ingin menjadikan karirnya sebagai karir, dan dia memulai karirnya sebagai penyanyi di beberapa kafe., Dan mulai berkembang dalam dunia pertunjukan musik, dan selanjutnya semakin beragam di Jakarta.

Asteriska telah menciptakan banyak gaya dan gaya karya musik yang berbeda, namun di album pertamanya “Distance”, ia memilih untuk mempersembahkan musik yang sederhana, murni, dan lembut kepada penonton. Lagu-lagu dalam album Jarak adalah melodi lembut, lirik dan perpaduan unik antara Folk dan Pop.

Album Distance resmi dirilis pada 7 Agustus 2015 bersama perusahaan rekaman musik independen Demajors Independent Music Industry (DIMI). Album dapat dibeli dalam bentuk CD fisik dan CD digital.

Saat ini dengan Iga Masardi, Gerald Siitumorang, T J Kusuma, Marco Stefiano dan Puti Chitara, mereka bergabung dalam grup di Barasuara.

7. Sandrayati Fay

Musisi independen ini tinggal di Bali. Tidak ada keraguan apakah aliran musik membuat kita serasa duduk di pantai Kuta dan menyaksikan matahari terbenam. Dia menggunakan gitarnya untuk membuat musiknya murni. Liriknya juga sangat puitis. Dengan cara ini, ketika dia bernyanyi, itu terdengar seperti dia sedang membaca puisi.

Sandrayati Fay adalah penyanyi independen untuk perusahaan rekamannya Sandrayati Fay Music. Lagu-lagunya sering berbicara tentang alam, identitas, dan cinta.

8. Nadin Amizah

Nadin Amizah lahir 28 Mei 2000 di Bandung, umur 20 adalah seorang penyanyi dan penulis lagu Indonesia. Nadin saat ini tinggal di Pondok Gede Bekasi.

Nadine mulai dikenal publik saat masih duduk di bangku SMA. Ia berkolaborasi dengan Dipha Barus dan merilis single “All Good” pada 2017. Nampaknya Nadin dan Dipha juga memperkenalkan lagu tersebut untuk pertama kalinya di panggung besar Djakarta Warehouse Project.

Sebelum memulai karir menyanyinya, Nadin melakukan debutnya di stasiun TV swasta acara Trans TV “Social Media Sensation” pada tahun 2016 dan menempati posisi ketiga di akhir acara.

Melalui label Sorai, Nadin merilis empat (empat) single hingga tahun 2019 yaitu “Rumpang” pada September 2018, “Sorai” pada Januari 2019, “Star” pada akhir Maret 2019 dan 27 September “Likea Bone” di Jepang , 2019. Nadin juga berkolaborasi dengan beberapa penyanyi untuk menghasilkan sejumlah lagu, seperti “Beauty and the Beast” bersama Adera, “Teralih” dengan Matter Halo, dan terakhir “Amin Most Seriously” bersama Sal Saladiadi. Di hari ulang tahunnya pada 28 Mei 2020, Nadin merilis album “Happy Birthday” yang memberinya kejutan. Album pertama Nadin berisi 10 lagu yaitu: “Introduction”, “Kanyah”, “Old Uncle”, “This Train Is Going Too Fast”, “Growing Up”, “Linking”, “Putting”, “Mirror” “,” Bleeding “dan lagu” Sorak Sorai “hasil kerjasama dengan Syarikat Idola Remaja (SIR).

bermacam penghargaan didapatkan Nadin Amizah, diantaranya Dipha Barus pada ajang Indonesian Music Awards 2017 yang dinobatkan sebagai kategori produksi dance atau elektronik terbaik. Kemudian, pada 2018, ia dinominasikan untuk AMI Award dalam dua kategori untuk karya aransemen ulang terbaik Dipha Barus untuk karya musik folk / country terbaik karya Divers Barus “All Good” dan “Teralih”.

diantara itu, pada tanggal 7 November tahun 2019, dia meraih 2 penghargaan dalam A M I Music Award tahun 2019 untuk sebuah singelnya yaitu Rumpang, dengan kategori music folk/country dan produksi folk terbaik & kategori penyanyi Pendatang Baru. disaat itu, lagu berjudul “Amin Paling Serius” ciptaan Nadin & Sal Priadi hanya masuk nominasi AMI Award.

Di awal tahun 2020, Billboard di Indonesia Music Awards tahun 2020 yang diadakan pertama kalinya, menominasikan Nadin di 3 kategori ialah “Best New Singer of the Year”, Cooperative Song of the Year dan Female Singer of the Year.

By admin